02 April 2009

4 Kuadran

Ketika Berpindah Kuadran
Pernahkah anda membaca buku Rich Dad Poor Dad karya Robert Kiyosaki? Saya sendiri bukan penggemarnya, dan tidak setuju dengan beberapa hal yang dibahas dalam buku-bukunya. Walaupun begitu, terlepas dari segala kontroversinya, buku ini cukup fenomenal dengan menjadi best seller, berhasil mengubah paradigma banyak orang dan membangkitkan semangat wirausaha.
Dalam buku ini Robert Kiyosaki membagi manusia dan penghasilannya dalam 4 kuadran, yaitu:
1. E (Employee) yang mendapat penghasilan bulanan tetap dari perusahaan
2. B (Business Owner) yaitu pemilik usaha yang mendapat penghasilan dari usahanya tersebut
3. S (Self Employed) adalah profesional yang mendapat penghasilan dari keahliannya tanpa perlu terikat pada suatu institusi tertentu, dan
4. I (Investor) yang mendapatkan penghasilan dari hasil investasinya tanpa perlu bekerja/berbisnis

Pindah kuadran adalah istilah untuk seseorang yang berpindah dari satu kuadran ke kuadran lainnya. Biasanya istilah ini digunakan untuk menunjukkan perpindahan dari kuadran kiri (Employee, Self Employed) ke kuadran kanan (Business Owner, Investor).
Pindah kuadran biasanya memerlukan pengorbanan dan energi yang cukup besar. Karena saat seseorang telah cukup lama berada di kuadran tertentu, seseorang akan masuk ke dalam comfort zone sehingga cenderung menolak perubahan (ingat Hukum Kelembamam?).
Saya sendiri pernah berpindah kuadran. Perpindahan pertama adalah dari kuadran E (Employee) ke kuadran yang tidak ada dalam diagram. Rupanya om Robert Kiyosaki lupa memasukkan klasifikasi untuk ibu-ibu rumah tangga yang setiap bulan mendapat jatah belanja dari suami tercinta he he.. (sambil mikir.. jangan-jangan itu termasuk kuadran Self Employed..).
Setahun yang lalu saya mendapat kesempatan untuk mengakuisisi suatu toko kecil mungil yang ada di dekat perumahan tempat saya tinggal. Semuanya berjalan begitu cepat. Sungguh, saat itu saya sama sekali buta dengan bisnis retail. Sejak masa sekolah dan kuliah cita-cita saya adalah BEKERJA. Lebih spesifik lagi, cita-cita muda saya adalah bekerja di perusahaan multinasional, dengan gaji yang cukup untuk mencicil kreditan mobil kecil supaya saya tidak perlu berjalan kaki ke mana-mana :p. Sama sekali tidak pernah terlintas di benak saya untuk memiliki usaha sendiri. Apalagi setelah akhirnya bekerja, memang lebih enak melihat rekening di bank bertambah setiap akhir bulan :
Dari beberapa penawar, ternyata Ibu baik hati pemilik Annisa sebelumnya mempercayakan kelangsungan tokonya pada saya. Alhamdulillah rencana Allah memang yang terbaik, tanpa pikir panjang, bismillah dan menguatkan hati untuk menerima resiko apapun, kami membulatkan tekat untuk belajar berbisnis kecil-kecilan.
Toko itu adalah toko perlengkapan bayi dan anak mungil yang telah berjalan selama 7 tahun. Namanya Annisa. Saya langsung jatuh hati padanya.
Pertama kali mendapat kabar bahwa Annisa bisa saya kelola, yang terlintas dalam pikiran saya adalah, "Huaaaah... emangnya gw bisa???" Apalagi semua investasi awal berawal dari suami. Dan kemudian ditambah dengan dana hasil kredit dalam jumlah yang cukup besar... Rasanya saya tidak berani menanggung resiko jika semua dana tersebut hilang apabila usaha ini tidak berhasil. Saat itu saya juga tidak cukup percaya diri untuk memastikan setiap bulan bisa membayar kredit tersebut..
Perbedaan nyata antara pekerja dan memiliki usaha sendiri ternyata adalah keberanian mengambil resiko. Seorang pekerja akan selalu mendapat jaminan, jumlah yang akan didapatnya dalam periode tertentu (gaji perbulan, misalnya). Sedangkan saat memilih untuk terlepas dari skema gaji, seseorang harus siap untuk menerima hilangnya modal yang dipertaruhkan, ongkos operasional usaha yang tidak menentu, dan jumlah keuntungan yang harus diperjuangkan. Dan rintangan terberat selalu saat di awal. Sesuai dengan hukum kelembamam, gaya yang dibutuhkan untuk mulai bergerak selalu jauh lebih besar daripada gaya yang dibutuhkan untuk terus bergerak. Untuk saya, rintangan terberat untuk pindah kuadran adalah mengalahkan ketakutan diri sendiri.. ketakutan akan rugi.
Alhamdulillah atas dukungan suami dan suntikan pede dari beberapa teman saya akhirnya berani untuk melangkah. Berani untuk mempertaruhkan sejumlah uang pada usaha yang masih gelap untuk saya saat itu. Berani untuk mencoba keluar dari comfort zone yang nyaman dan bergerak keluar dari kepompong rutinitas yang nyaman. Berani untuk menginjakkan kaki di kuadran yang beresiko ini :p.
Ternyata memulai usaha sangat menyenangkan. Yang pertama kali saya lakukan adalah sibuk berkonsultasi dengan teman-teman yang 'berilmu'. Saya bertanya kepada para ibu hebat di sekitar saya, menggali pengalaman dan mendengar cerita-cerita menarik yang menambah isi kepala yang sebelumnya kosong :p. Saya bahkan belajar membuat proposal bisnis sederhana dari seorang sahabat. Thanks ya Va, terbukti proposal bisnis yang saya buat itu menjadi peta yang menuntun langkah saya selanjutnya.
Begitu memulai saya dan suami tidak bisa berhenti menahan ide yang terus mengalir :-D. Bahkan karena keterbatasan sumber daya di kota kecil kami, terpaksa segala desain interior dan piranti display untuk Annisa harus dikerjakan sendiri. Hhh.. awalnya saya sangat tidak pede. Bayangkan, seorang mantan database engineer yang jarang bergaul dengan warna harus mendesain interior toko bayi! Thanks to si ayah yang selalu membesarkan hati.. Dengan segala perjuangan, akhirnya desain warna dan konsep display Annisa bisa kami selesaikan. Oya, untuk semua piranti display, itu hasil desain si Ayah yang electrical engineer lo. Ternyata bergerak keluar dari comfort zone berhasil memunculkan bakat-bakat yang selama ini terpendam ha haa..
Was this information

1 comments:

Post a Comment

please comment here...